Infografik: Bahaya happy hypoxia dan akurasi oximeter
- Leoni Alvionita
- Sep 5, 2020
- 2 min read
Updated: Jan 8, 2022
Belakangan ini media sosial dan masyarakat ramai membahas pasien positif korona dengan kadar oksigen rendah, yang dikenal sebagai happy hypoxia syndrome (happy hypoxia).

Hingga kini, masih diteliti apakah happy hypoxia merupakan gejala yang umum terjadi pada pasien korona atau bukan. Di Indonesia, belum diketahui pasti berapa banyak pasien positif korona yang mengalami gejala ini.
Pakar dari Departemen Pulmonologi dan Kedokteran Respirasi FKUI Faisal Yunus menjelaskan salah satu penyebab hypoxia adalah pembuluh darah ke otak terkontraksi dan melebar, sehingga otak tidak menerima sinyal bahwa tubuh mengalami hypoxia.
“Jalur (oksigen) menuju otak ada gangguan. Otak tak bisa merespons karena tak ada sinyal. Ada juga teori yang menyebutkan ada penggumpalan di dalam darah, sehingga peredaran tersumbat dan saturasinya memburuk. Banyak penyebabnya,” kata Faisal saat dihubungi Lokadata.id (02/9/2020).
Normalnya, kemampuan haemoglobin mengikat oksigen (biasa disebut saturasi oksigen) bisa mencapai 95 sampai 100 persen. Dalam kondisi tertentu, tubuh bisa mentoleransi sampai 92 persen. Tapi di bawah itu, pada umumnya tubuh akan mengalami gagal organ hingga kematian.
“Nah, ada beberapa kasus korona ketika saturasi oksigen turun hingga 70 persen, pasien tetap sadar. Normalnya orang tak akan sadar, jantungnya pasti memompa sangat cepat. Tapi ini organnya biasa-biasa saja,” tambah Faisal.
Menurut jurnal penelitian The Pathologist of ‘Happy’ Hypoxemia in Covid-19 yang dipublikasikan 28 Juli 2020 disebutkan, pada hari-hari awal pasien korona mengalami hypoxia, paru-paru dapat bekerja dengan baik, tanpa ada resistensi jalan pernafasan, sehingga tak ada gangguan sesak nafas.
Namun kegagalan pernafasan dapat terjadi tiba-tiba sehingga pasien mendadak bernafas dengan cepat dan berlebihan. Ini merupakan tanda penting kegagalan pernafasan yang dialami pasien korona.
Karena tak bisa dideteksi tanpa alat, pasien dengan hypoxia diketahui setelah pasien dirawat di rumah sakit. Menurut keterangan epidemiolog Universitas Griffith Dicky Budiman, ada beberapa kasus happy hypoxia yang terjadi pada orang tanpa gejala.
“Pasien korona yang mengalami hypoxia berisiko tinggi mengalami komplikasi. Mereka harus segera diberi bantuan oksigen dan dimonitor,” kata Dicky kepada Lokadata.id (02/8/2020).
Jangan borong oximeter
Saat ini, ada alat pendeteksi saturasi oksigen yang sedang laris di pasaran. Namanya oximeter. Alat yang dijual di apotek dan toko alat kesehatan ini, muncul dalam berbagai merek, dengan kisaran harga Rp200.000 hingga Rp800.000.
Sejumlah apotek dan toko alat kesehatan mengaku kehabisan stok oximeter. Ini mirip dengan tren ketika dulu masyarakat memborong thermogun meski alat ini saja tak sepenuhnya dapat mendeteksi gejala infeksi korona.
Bukan hanya di Indonesia, di belahan dunia yang lain oximeter juga sedang naik daun. Menurut artikel pada Wexner Medical Center, penjualan oximeter juga melambung di Amerika Serikat karena masyarakat panik dan berebut membelinya.
Menurut Chief Medical Officer American Lung Association, Albert Rizzo, oximeter tak bisa digunakan sebagai indikator utama self-diagnosis korona. Ia mengatakan bisa saja level oksigen menurun karena faktor-faktor lain. Diagnosa suatu penyakit tak bisa diketahui dari satu alat tanpa bantuan dokter dan tenaga medis.
Menurut Dicky, yang harusnya membeli oximeter adalah fasilitas kesehatan primer seperti puskesmas, bukan masyarakat. “Ini akan menambah informasi dan data kondisi pasien ketika pemeriksaan,” katanya.
Published on :



Comments